Bareskrim Polri Usut Aliran Dana dan Pelarian Djoko Tjandra

PORTALKRIMINAL.ID-JAKARTA: Terpidana kasus korupsi Djoko Tjandra resmi menjalani penahanan di Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri.

Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo mengatakan, pihaknya langsung mengusut Djoko terutama soal bagaimana pelariannya selama ini. Termasuk dugaan keterlibatan onknum Polri, Brigjen Prasetijo Utomo.

“Kami lanjutkan pemeriksaan terkait dengan kasus yang terkiat dengan surat jalan, rekomendasi, dan juga kemungkinan yang pernah saya sampaikan lidik terkait dengan adanya aliran dana,” jelas Listyo, Sabtu (1/8).

Listyo melanjutkan, hasil pemeriksaan ini tak bakal ditutupi dan dibuka setiap hari.

“Sesuai dengan janji  bahwa kami akan selalu menyampaikan sebagai bentuk transparansi kita sehingga publik bisa mengikuti setiap perkembangan kami,” ungkap Listyo.

Lulusan AKPOL 1991 ini menuturkan, dengan ditahan di Gedung Bareskrim, pemeriksaan terhadap Djoko lebih mudah.

“Ini juga tentunya memudahkan bagi Bareskrim polri untuk melanjutkan penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut terhadap Djoko Tjandra,” tutup Listyo.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Ali Mukartono mengatakan, setelah proses penyerahan status Djoko Tjandra kini telah resmi menjadi warga binaan atau narapidana.

“Dengan eksekusi ini maka berubahlah status yang bersangkutan, terpidana nanti menjadi warga binaan, yang menjadi tanggung jawab dari Ditjen Lapas,” kata Ali.

Sebelumnya, Polri menangkap Djoko Tjandra yang kabur ke luar negeri sejak 2009. 

Djoko Tjandra tiba di Jakarta sekitar pukul 22.40 WIB dan tiba menumpangi pesawat tipe Embraer ERJ 135 dengan nomor registrasi PK RJP.

Djoko Tjandra terlihat mengenakan baju oranye dan menggunakan masker. Setelah tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Djoko langsung dibawa ke Bareskrim Mabes Polri.

Kasus Djoko Tjandra bermula ketika Direktur PT Era Giat Prima itu dijerat dakwaan berlapis oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ridwan Moekiat.

Dalam dakwaan primer, Djoko didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi berkaitan dengan pencairan tagihan Bank Bali melalui cessie yang merugikan negara Rp 940 miliar.

Namun, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diketuai oleh R Soenarto memutuskan untuk tidak menerima dakwaan jaksa tersebut.

Kemudian, Oktober 2008 Kejaksaan mengajukan PK ke Mahkamah Agung. MA menerima dan menyatakan Djoko Tjandra bersalah.

Sehari sebelum putusan MA pada Juni 2009, Djoko diduga kabur meninggalkan Indonesia dengan pesawat carteran dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Port Moresby, Papua Nugini.

Djoko Tjandra kemudian diketahui telah pindah kewarganegaraan ke Papua Nugini pada Juni 2012. 

Kendati demikian, alih status warga negara itu tidak sah karena Djoko masih memiliki permasalahan hukum di Indonesia.(Nugroho)

Leave a Reply