13 Hari Operasi Patuh Jaya, Polda Metro Tilang 31.359 Pengendara

PORTALKRIMINAL.ID – JAKARTA: Selama 13 hari Operasi Patuh Jaya 2020, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya mencatat menilang sebanyak 31.359 pengendara kendaraan bermotor.

Selain itu, petugas Ditlantas Polda Metro Jaya melakukan peneguran kepada 59.620 pengendara

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo mengatakan dari 31.359 pengendara yang ditilang, didominasi pengendara sepeda motor yakni sebanyak 24.807.

“Kemudian disusul pengendara mobil penumpang sebanyak 5.310, mobil barang 1.010, pengendara bus 211 dan kendaraan khusus 21 unit. Jadi pelanggaran didominasi pengendara roda dua atau motor,” kata Sambodo, Rabu (5/8/2020).

Sementara untuk barang bukti yang disita dari 31.359 pengendara yang ditilang, yakni SIM sebanyak 17.354 lembar, STNK 13.964 lembar dan 40 kendaraan. “Jadi ada 40 kendaraan kami kandangkan sementara sampai proses tilang selesai,” katanya.

Sebelumnya Sambodo mengatakan dalam Operasi Patuh Jaya ini sedikitnya sudah ada 120 mobil yang menggunakan rotator atau sirene tidak sesuai ketentuan yang ditilang pihaknya.

Seperti diketahui Operasi Patuh Jaya digelar Ditlantas Polda Metro Jaya mulai 23 Juli sampai 5 Agustus 2020 mendatang.

Ada 5 jenis pelanggaran lalu lintas yang menjadi sasaran prioritas dalam Operasi Patuh Jaya 2020 ini.

Salah satunya adalah mobil atau kendaraan pribadi yang menggunakan rotator ataupun sirine yang tidak sesuai dengan ketentuan penggunaan.

Sambodo menjelaskan alasan kenapa kendaraan pribadi yang menggunakan rotator atau sirene menjadi salah satu target operasi dalam Operasi Patuh Jaya, adalah karena banyaknya komplain dan keluhan dari masyarakat.

“Penggunaaan rotator ini termasuk dari lima jenis pelanggaran tematik yang menjadi target daripada Operasi Patuh Jaya 2020. Kenapa ini menjadi salah satunya, karena kami menerima sangat banyak komplain dari masyarakat atas penggunaan rotator atau sirine yang tidak sesuai ketentuan,” kata Sambodo.

Ia mengatakan sesuai UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, penggunaan rotator dan sirine hanya boleh atau diperkenankan pada mobil dinas tertentu. “Jadi kalau ada kendaraan pribadi menggunakan rotator atau sirine akan kami tindak,” katanya.

Sambodo menjelaskan tematik pelanggaran lalin yang juga menjadi target operasi Patuh Jaya 2020 ini adalah melawan arus. “Dalam hal ini termasuk kendaraan yang masuk ke jalur busway.

Pelanggaran ini akan kami tindak. Di beberapa titik seperti di jalur mampang, sudah ada kamera ETLE yang dioperasikan. Nanti di tahap ketiga, akan diperbanyak ETLE di jalur busway,” katanya.

Sebelumnya Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana menjelaskan dalam Operasi Patuh Jaya 2020 ini, pihaknya tidak menggunakan sistem razia di tempat. “Ini untuk menghindari kerumunan, dan mencegah penularan Covid-19,” kata Nana di Mapolda Metro Jaya, Kamis (23/7/2020).

Ia memastikan tidak ada petugas berdiam diri di pinggir jalan dan merazia pengendara.

“Namun sistemnya petugas akan berkeliling dan langsung menyetop pengendara yang terlihat melanggar aturan,” ujar Nana.

Ia menjelaskan sebanyak 1.807 personel gabungan akan dikerahkan dalam operasi yang berjalan selama 14 hari itu.

Menurutnya ada 5 jenis pelanggaran lalu lintas yang menjadi sasaran prioritas dalam Operasi Patuh Jaya 2020 ini.

“Yang pertama melawan arus lalu lintas, kedua pengemudi dan penumpang sepeda motor yang tidak menggunakan helm SNI, yang ketiga melanggar marka stop line, yang keempat melintas bahu jalan tol dan yang kelima adalah menggunakan rotator ataupun sirine yang tidak sesuai dengan ketentuan penggunaan,” papar Nana saat apel gelar pasukan Operasi Patuh Jaya 2020 di Mapolda Metro Jaya, Kamis (23/7/2020).

Ia menjelaskan seiring dengan tuntutan dan harapan masyarakat yang menginginkan birokrasi yang mudah, tepat, cepat dan sederhana dalam pelayanan kepolisian, serta dihadapi pada era digital, maka Polda Metro Jaya telah meluncurkan berbagai inovasi berbasis digital dan pelayanan kepolisian.

“Diantaranya adalah Electronic Traffic Law Enforcement atau ETLE yang sejak bulan November 2019 telah diimplementasikan di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan menjadi proyek nasional,” katanya.

Menurut Nana jumlah kamera ETLE yang sebelumnya sebanyam 12, telah diperbanyak atau ditambah 45 kamera. “Tahun sebelumnya adalah 12 kamera ditambah 45 kamera tahun ini. Jadi saat ini sudah ada 57 kamera dan juga telah diperluas lokasinya,” kata Nana.

Ia menyebutkan dalam operasi ini menurunkan 1.807 personel gabungan.

“Sebanyak 1807 personil yang terdiri dari personel Polri, TNI, Dinas Perhubungan DKI dan Satpol PP, kami turunkan dalam operasi ini,” kata Nana.

Menurutnya tujuan dari operasi ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan sehingga mencegah resiko penularan Covid 19. “Juga meningkatkan kesadaran masyarakat dalam tertib berlalu lintas sehingga terwujudnya keamanan keselamatan ketertiban dan kelancaran lalu lintas,” katanya.

Ia mengatakan operasi ini akan dilakukan dengan tindakan preemtif sebesar 40 persen, preventif 40 persen dan represif 20 persen.

Dengan operasi ini kata Nana diharapkan menurunkan tingkat kecelakaan lalu lintas. “Dimana sepanjang 2020 tercatat 4.708 kecelakaan lalu lintas,” ujarnya.(amin)

Leave a Reply