MAKI Desak Kejagung Buka Lagi SP3 Tan Kian Dalam Kasus Asabri

HEADLINE KORUPSI

Diperiksa kasus Jiwasraya Jilid III

PORTALKRIMINAL.ID- JAKARTA: Nama Tan Kian,  tiba-tiba muncul lagi.  Kali ini eks.  Tersangka kasus Asabri diperiksa sebagai saksi Skandal Mega Korupsi Jiwasraya, Jilid III.  

Awal tahun 2000, Tan Kian diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Benny Tjokrosaputro (Bos PT. Hanson Internasional), dalam Jiwasraya Jilid I. 

Tan Kian diperiksa,  Jumat (27/11) terkait kerjasama pembangunan Apartemen dengan Benny,  di Kawasan Mega Kuningan,  Jakarta Selatan. 

Pieter selaku Dirut PT.  Himalaya Energi Perkasa patut diduga masih terafiliasi,  dengan Benny,  yang bulan lalu divonis hukuman seumur hidup dalam kasus Jiwasraya Jilid I. 

“Terhadap Tan Kian,  status SP 3,  3 April 2009 akan saya gugat lagi. Pengembalian kerugian negara tidak menghapus perbuatan pidana, ” tegas Boyamin Saiman, Pegiat Anti Korupsi, di Jakarta,  Sabtu (28/11).

Iyul Sulinah,  isteri tersangka Hendry Leo juga minta Kejaksaan Agung buka lagi kasus tersebut. 

“Uang pengembalian yang disita dari bank sebesar 13 juta dolar AS, yang menjadi dasar SP3 sama artinya Tan telah melakukan perbuatan pidana, ” tururnya secara terpisah, Sabtu (28/11)

Boyamin sempat gugat SP3 ke PN. Jakarta Selatan,  2009 namun ditolak,  karena tidak memiliki Legal Standing. 

Beberapa waktu lalu,  Mahkamah Konstitusi memperbaiki soal Legal Standing. Maka,  MAKI yang dipimpinnya pasti mendaftarkan gugatan ke PN. Jakarta Selatan. 

INVESTASI SAHAM

Menurut Kapuspenkum Hari Setiyono, Tan Kian diperiksa dalam kapasitas aelaku Ketua KSO (Kerjasama Operasi Duta Regency Karunia Metropilitan Kuningan Properti).

“Pemerikaaan dimaksudkan, karena saksi diduga mengetahui  proses jual beli dan investasi saham,” kata Hari Setiyono,  di Jakarta,  Jumat (27/11) malam. 

Dalam hal ini,  jual beli dan investasi saham dari pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT. Asuransi Jiwasraya (Persero).

Seperti diketahui,  apartemen dibangun dengan dana dari Benny Tjokrosaputro dan Tan Kian menyediakan lahan.

Dana untuk membangun patut diduga dari hasil “gorengan” saham Jiwasraya,  di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Pieter dijadikan tersangka,  (12/10) dan langsung dijeloskan ke penjara bersama tersangka Jiwasraya Jilid II Fakhri Hilmi. 

Dalam kasus,  Jiwasraya Jilid II Hilmi (Pejabat Otoritas Keuangan) menjadi tersangka bersama 13 tersangka korporasi. 

BUKA LAGI

Kasus Asabri berawal saat Henry Leo bekerjasama membangun Plaza Mutiara dan membentuk PT. Cakrawala Karya Buana (CKB). 

Henry menyediakan uang 13 juta dolar AS, hasil pinjaman kepada Asabri,1996. Tan Kian menyediakan lahan. 

Secara terpisah, CKB mengajukan kredit ke Bank BII dan memperbaiki 13 juta dolar AS. 

Belakangan,  terjadi masalah Henry Leo dan Dirut Asabri Mayjen TNI. Purn. Subarda Midjaja dijadikan tersangka dan dinyatakan bersalah.

Sebaliknya, Tan Kian dengan alasan sudah mengembalikan kerugian negara 13 juta dolar AS dihentikan penyidikan (SP3) masa Jampidsus Alm. Marwan Effendy, 3 April 2009.

Plaza Mutiara dikembalikan kepada Tan Kian. Menhan Juwono Sudarsono yang ingin Plaza Mutiara diserahkan kepada Asabri,  untuk dijadikan kantor pusat Asabri “gigit jari.”

“Ini bentuk penerapan hukum yang diskriminatif. Semestinya, berkas dan Kian dimajukan ke pengadilan. Tidak fair saat Henry dan Subarda diadili. Tan di-SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan. “

“Saya berharap Pak Jampidsus Ali Mukartono buka lagi agar ada kesamaan di depan hukum,” pungkas Boyamin. 

Iyul Sulinah sendiri tidak bersedia membayar uang pengganti Rp70 miliar yany dibebankan kepada suaminya,   selama belum dilakukan audit terhadap aset-aset yang disita,  yang nilainya setara Rp600 miliar lebih 

Sedangkan,  kerugian negara Asabri (Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) hanya Rp418 miliar. 

“Saya akan bayar segera,  setelah dilakukan audit terhadap aset-aset yang disita, sebab disitu juga termasuk aset milik saya, ” tukas Iyul yang juga berprofesi pengusaha.  (ahi) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *