Bamsoet Minta Pemerintah Investigasi Dugaan Kebocoran Data 279 Juta Penduduk Indonesia

PORTALKRIMINAL.ID – JAKARTA: Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendesak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), bersama perangkat Polri seperti Bareskrim dan Direktorat Tindak Pidana Siber, serta Badan Siber dan Sandi Negara, menginvestigasi secara tuntas dugaan kebocoran data 279 juta penduduk Indonesia, yang ditengarai berasal dari data peserta jaminan sosial kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan.

Politisi yang akrab disapa Bamsoet itu menyebut, data penduduk Indonesia tersebut dijual di forum peretas Raid Forums pada 12 Mei 2021.

“Sebagaimana disampaikan pakar digital forensik Ruby Alamsyah, dari satu juta sampel data yang ia peroleh dan teliti, menunjukan adanya kecenderungan data tersebut mengandung informasi pribadi peserta jaminan sosial kesehatan,” kata Waketum Partai Golkar itu kepada para awak media, Sabtu (22/5/2021).

Bamsoet mengungkapkan, hal itu dibuktikan adanya informasi ‘nama penanggung’ dan ‘nomor kartu’ seperti formulir jaminan sosial kesehatan yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Kebocoran data tersebut bukan persoalan main-main, bukan juga persoalan kecil. Melainkan sangat serius. Karena di era teknologi informasi saat ini, data merupakan kekayaan nasional yang patut dijaga.

Bamsoet mengingatkan, kedaulatan terhadap data, menunjukan kedaulatan sebuah bangsa. “

“Bahkan Presiden Joko Widodo menegaskan, data adalah new oil, bahkan lebih berharga dari minyak,” sebut Ketua DPR RI ke-20 ini.

Bamsoet menjelaskan, selain ada kepentingan ekonomi yang tidak proper, kebocoran data tersebut juga menyangkut keamanan privacy warga negara Indonesia, sekaligus menunjukan perangkat hukum cyber security kita tidak kuat.

“Selain kejadian tersebut, tren kejahatan siber juga semakin meningkat. Berdasarkan laporan kepolisian hingga November 2020, terjadi setidaknya 4.250 laporan kejahatan siber. Di tahun 2019, jumlahnya bahkan mencapai 4.586 laporan, dan di tahun 2018 sekitar 4.360 laporan,” ungkap Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini.

Bamsoet menerangkan, selain kebocoran data, kejahatan siber juga memiliki ragam jenis.

“Antara lain penipuan daring, penyebaran konten provokatif, pornografi, akses perjudian, pemerasan, peretasan sistem elektronik perbankan, intersepsi ilegal, hingga pengubahan tampilan situs dan gangguan sistem manipulasi data,” urai anggota Komisi III DPR RI ini.

Tidak hanya itu, tambah legislator asal Dapil Jateng 7 ini, Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional Badan Siber Sandi Negara juga mencatat, sepanjang Januari-November 2020 setidaknya ada 423 juta serangan siber ke Indonesia.

Meningkat tajam dari tahun 2019 yang berjumlah 290,3 juta, dan tahun 2018 sebanyak 232,4 juta jiwa,” pungkas Bamsoet.

Sebelumnya, Kabareskrim Mabes Polri Komjen Agus Andrianto mengaku, pihaknya segera menyelidiki kasus tersebut.

“Sejak isu bergulir saya sudah perintahkan Dirtipidsiber (Brigjen Slamet Uliandi -red) untuk melakukan lidik hal tersebut,” ujar Agus melalui pesan singkat, Jumat (21/5/2021).

Agus menjelaskan administrasi penyidikan sedang disiapkan supaya Bareskrim bisa ikut membantu mengusut kasus kebocoran itu.

Saat ini, sambung Agus, Kominfo hingga BPJS Kesehatan sedang mendalami bocornya 279 juta data WNI.

“Sedang dipersiapkan mindik (administrasi penyidikan) untuk legalitas pelaksanaan anggota di lapangan. Saat ini dari Kominfo, Kependudukan, dan BPJS sedang mendalami hal kebocoran tersebut,” tandas Agus Andrianto. (Daniel)

Leave a Reply