Pertama Dalam Sejarah, 7 Tersangka Korupsi Ditetapkan Waktu Bersamaan

PORTALKRIMINIMAL.ID -JAKARTA: Pertama dalam sejarah penyidikan. Kejaksaan Agung menetapkan 7 tersangka dalam waktu bersamaan dan menjebloskan ke penjara, dalam kasus korupsi di LPEI.

Bukan sekedar itu,  ketujuh Mantan dan Pejabat LPEI (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia) serta Rekanan LPEI ditahan di Rutan Cipinang,  dengan alasan Rutan Kejagung dan Rutan Kejari Jakarta Selatan sudah penuh sesak. 

Selain itu sempat ada aksi protes dari pengacara saksi terkait penetapan tersangka dilakukan tanpa audit kerugian negara. 

Kapuspenkum Leonard EE. Simanjuntak mengatakan mereka dijadikan tersangka
terkait tindak pidana menghalang-halangi penyidikan.

Atau tidak memberikan keterangan atau memberikan keterangan yang tidak benar dalam kasus dugaan korupsi di  LPEI tahun 2013-2019.

“Guna memperlancar penyidikan,  ke-7 tersangka langsung ditahan di Rutan Cipinang, Jakarta Timur,  ” katanya,  di Jakarta,  Selasa (2/11) malam.

Sebenarnya,  Selasa juga diperiksa tiga saksi lain,  namun mereka lolos dari status tersangka. 

Ketiga orang tersebut,  adalah AL selaku Direktur PT Lautan Harmoni Sejahtera, ARS (Pengurus CV Sumber Rezeki) dan
STA (Dirut PT Mitra Adyaniaga).

Protes terhadap penetapan tersangka dilakukan oleh orang mengaku bernama Wijayanto,  tapi tidak ditanggapi oleh Jaksa dengan alasan bukan pengacara tersangka.

Dengan setengah berteriak,  dia mengatakan kepada tujuh tersangka akan mengajukan praperadilan saat 7 tersangka masuk mobil tahanan, tapi aksi di Lobi,  di Gedung Bundar tidak ditanggap oleh para tersangka. 

Dengan catatan, gugatan diajukan, bila dia diberi kuasa sebagai para tersangka. “Saat ini status kuasa saksi, ” tuturnya.

Ketujuh tersangka yang nampak berusia muda hanya tertunduk lesu dan tidak sepatah kata keluar dari bibir mereka,  Selasa malam,  sekitar pukul 21. 15 WIB. 

Perkara dugaan korupsi sebesar Rp4, 7 triliun di LPEI disidik,  sejak 24 Juni sesuai Surat Perintah Penyidikan No: Print-13/F.2/Fd.2/06/ 2021.

Kini,  tinggal para Debitur LPEI yang disasar dan para Pejabat LPEI lain yang mengucurkan kredit ekspor tanpa agunan memadai. 

Belum diketahui kapan penetapan tersangkanya? 

12 TAHUN PENJARA

Mereka dijerat Pasal 21 dan 22 UU Tipikor, dengan ancaman hukuman paling singkat 3 tahun dan paling lama 12 tahun penjara serta denda paling sedikit Rp150 juta dan paling banyak Rp600 juta.

“Mereka dijerat primer Pasal 21 UU Tipikor No. 31/1999 dan subsider Pasal 22 UU Tipikor No. 31/1999,” jelas Leonard. 

Ketujuh tersangka,  adalah IS selaku Mantan Direktur Pelaksana UKM dan Asuransi Penjaminan LPEI Tahun 2016-2018.

Lalu, NH ( Mantan Kepala Departemen Analisa Risiko Bisnis (ARD) II LPEI Tahun 2017-2018), EM (Mantan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Makassar  2019-2020).

Kemudian,  CRGS (Mantan Relationship Manager Divisi Unit Bisnis Tahun 2015-2020 pada LPEI Kanwil Surakarta), AA (Deputi Bisnis pada LPEI Kanwil Surakarta 2016-2018).

Terakhir,  ML (Mantan Kepala Departemen Bisnis UKMK LPEI) dan RAR (Pegawai Manager Resiko PT. BUS Indonesia).

PENGHALANGAN

Leonard menerangkan bentuk menghalang-halangi penyidikan atau tidak memberi keterangan berawal saat saksi diperiksa sesuai dengan Surat Panggilan Saksi yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan.

“Saksi  meminta agar mencantumkan siapa tersangka, pasal yang disangkakan dalam Berita Acara Pemeriksaan Saksi, serta telah ada Penghitungan Kerugian Keuangan Negara, ” ungkapnya. 

Atas sikap saksi yang tidak kooperatif, tim penyidik tidak mendapat keterangan apapun terkait pokok perkara. 

Terkait peran para Tersangka, menurut Leonard  tersangka IS, NH,  RAR, EM,  CRGS, AA dan telah beberapa kali menolak memberikan keterangan sebagai saksi.

Namun,   dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan sehingga menyulitkan penyidikan.

“Padahal,  keterangan saksi dibutuhkan untuk membuat terang tindak pidana yang terjadi dan menemukan tersangka, ” pungkas Leonard.  (ahi) 

Leave a Reply