Buka Suara Soal Serangan Pribadi, Jaksa Agung: Bentuk Perlawanan Koruptor!

PORTALKRIMINAL.ID – JAKARTA: Jaksa Agung ST. Burhanuddin tegaskan serangan terhadap kehidupan pribadinya adalah bentuk perlawanan para koruptor biasa disebut Corruptors Fight Back.

“Berita miring yang terakhir, sengaja dimunculkan beberapa saat setelah wacana mengenai hukuman mati bergulir, ” ungkapnya.

Pernyataan ini disampaikan saat memberi pengarahan kepada Jajaran Adhyaksa se-Sumut, pada saat Kunker (Kunjungan Kerja) ke Kejaksaan di wilayah hukum Sumut, Jumat (12/11).

Pada kesempatan itu, Jaksa Agung tidak menunjuk hidung para koruptor tersebut dan juga apakah akan mengambil langkah hukum, mengingat serangan itu sudah masuk ranah pribadi.

“Semakin keras, kita perangi korupsi. Perlawanan para koruptor akan semakin masif dan sporadis, ” bebernya.

Bahkan, masih kata Burhanuddin serangan dimaksud tidak hanya ditujukan kepada institusi, tetapi juga mulai menyerang kehidupan pribadi.

“Jika dicermati, serangan berita-berita negatif terhadap Kejaksaan selalu muncul tiap kali Kejaksaan mengambil tindakan tegas pada tindak pidana korupsi. “

Jakartanews. Id mencatat sejak akhir Desember 2020, Kejaksaan menangani Mega Skandal Jiwasraya dan sebagian besar dari 6 tersangka dituntut seumur hidup dan 20 tahun dan lalu dikuatkan oleh putusan pengadilan hingga Mahkamah Agung.

Terakhir, Kejaksaan menangani Mega Skandal Asabri dengan 8 tersangka dan tengah berproses di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Bisa jadi, para aktor intelektual perkara ini bakal dituntut mati seiring penegasan Jaksa Agung, belum lama ini ?

Namun semua, bergantung pada pembuktian di pengadilan

Mega Skandal Jiwasraya, jumlah kerugian negara sebesar Rp16, 81 triliun. Sementara Asabri mencapai Rp22, 78 triliun.

Jumlah kerugian negara ini tercatat terbesar sejak Republik berdiri, terutama korupsi di bidang investasi dan keuangan.

Selain itu, kasus Pembangunan Masjid Sriwijaya dan kasus Pembelian Gas Bumi oleh PD. PDE Sumsel. Hanya, kasus Dana Hibah (dan Bansos) Sumsel ketinggalan untuk dituntaskan.

RAPATKAN BARISAN

Menyikapi serangan tersebut, pria berkumis tebal ini meminta Jajaran Adhyaksa untuk merapatkan barisan, tidak takut dan tetap fokus pada pekerjaan.

“Mari jawab tudingan miring itu dengan prestasi, sekali lagi JAWAB TUDINGAN MIRING DENGAN PRESTASI, ”  pintanya.

Bahkan, tidak hanya itu dia juga minta dipublikasikan dan diviralkan setiap torehan prestasi.

“Hanya dengan prestasi masyarakat tidak akan terprovokasi opininya tentang kejaksaan, ” tuturnya.

“Dengan prestasi akan membungkam pihak-pihak yang akan menyerang kita, dan masyarakat tentunya akan menilai hasil kinerja kita secara objektif, ” tambahnya.

Dia lalu mengutip hasil Survey Indonesia Development Monitoring (IDM) dimana Kejaksaan  menjadi lembaga penegak hukum yang paling dipercaya masyarakat, yakni dengan persentase kepercayaan mencapai 79,2%.

“Hal ini membuktikan kepercayaan masyarakat akan terbangun, apabila kita konsisten memberantas korupsi secara obyektif dan berkelanjutan, ” pungkasya.

RANAH PRIBADI

Seperti halnya, kasus korupsi yang diduga menjadi alasan koruptor serang balik, begitu juga halnya dengan serangan ke ranah pribadi tidak disinggung kehidupan pribadi yang mana ?

Jakartanews. Id mencatat serangan pertama  terkait dugaan ijazah palsu menyusul  pengukuhan sebagaI Profesor oleh Universita Soedirman terkait gagasan Penegakan Hukum Dengan Hati Nurani.

Namun, dibantah dan dalam keterangan tertulis Kapuspenkum Leonard EE. Simanjuntak disebutkan Burhanuddin adalah Alumni FH-Untag Semarang, Strata Dua dari Perguruan Labora dan Strata Tiga dari Satyagama.

Penyerang beralasan mendapat keterangan, tidak disebutkan hari dan tanggal, dikatakan Burhanuddin lulusan Undip dan Master (S II) dari UI, namun semua dibantah oleh kedua perguruan tinggi.

Terakhir, bisa jadi laporan Jaga Adhyaksa kepada Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) soal dugaan Poligami, sekitar seminggu lalu.

Laporan tersebut sampai sekarang belum ditindak-lanjuti oleh KASN.

Bisa jadi, karena materi laporan tidak lengkap dan atau masih diperlukan pendalaman ? (ahi)

Leave a Reply