Tersangka Baru Skandal Impor Baja, Kapan Giliran Direksi 6 Perusahaan Importir?

Tersangka Baru Owner Merasati Group

PORTALKRIMINAL.ID -JAKARTA: Kembali, Kejaksaan Agung menetapkan tersangka baru Skandal Impor Baja. Kali ini seorang pengusaha berinisial BHL. 

Tidak berhenti disitu, Kejagung juga menjebloskan   Owner (Pemilik) Meraseti Group ke  Rutan Kelas I  Jakarta Pusat, Kamis (2/6) malam.

“Tim berpendapat sudah cukup bukti guna dijadikan tersangka. Agar tidak melarikan diri, tersangka ditahan di Rutan Kelas I Jakarta Pusat, ” kata Kapuspenkum Dr. Ketut Sumedana, Kamis (2/6) malam.

Pengusaha tersebut adalah tersangka ketiga dan 6 korporasi yang notabene Importir, yang dijadikan tersangka untuk tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU), Selasa (31/5).

Dengan demikian, tinggal Petinggi Lintas Kementerian dan Direksi Perusahaan Impor Baja yang belum dijadikan tersangka terkait perkara Impor Baja atau Besi, Baja Paduan dan Produk Turunan, 2016 – 2021 ?

Perkara ini disebut skandal, sebab tidak hanya merugikan keuangan negara, tapi juga perekonomian negara dalam jumlah besar. 

Juga praktik ini bisa berlangsung lama sejak 2016 – 2021. Patut diduga ada dugaan permufakatan jahat antar oknum Petinggi dari lintas sektoral ?

“Kita beri kesempatan kepada tim untuk bekerja. Penetapan 6 korporasi sebagai tersangka, jujur sangat diapresisi, ” tutur Koordinator MAKI Boyamin Saiman, Jumat (3/6).

Sebelum ini, Senin (30/5) tersangka T hanya sekelas Manajer PT. Merasati Logistik). Lalu, Kamis (2/6) diikuti Bos Merasati Group BHL.

Sedangkan tersangka pertama  TB hanya menduduki jabatan Eselon IV, yakni Kasubag TU pada Direktorat Impor, Ditjen Perdagangan Luar Negeri (Daglu), Kementerian Perdagangan (Kemdag), Kamis (19/5).

Namun, apakah hanya karena dugaan menerima gratifikasi dari T sebesar Rp50 juta, lalu semua dosa dibebankan kepada TB ?

“Itu seperti saya katakan. MAKI percaya Kejagung akan menuntaskannya, ” lanjut Boyamin mencontohkan dijadikannya Dirjen Daglu (Perdagangan Luar Negeri), Kemdag (Kementerian Perdagangan) Indrasari Wisnu Wardhana sebagai tersangka Perkara Mafia Migor.

BHL tercatat Owner Merasati Group, terdiri PT Meraseti Transportasi Indonesia, PT Meraseti Maritim Indonesia, PT Meraseti Digital Kreatif, PT Meraseti Konsultama Indonesia, PT Meraseti Bakti Nusantara, PT Meraseti Anugerah Utama dan PT Meraseti lainnya.

JAJARAN DIREKSI

Pertanyaan lain, adalah nasib Pimpinan Perusahaan Importir selain Petinggi Lintas Kementerian mengacu kepada Skandal Jiwasraya dan Asabri.

Disamping mempidanakan korporasi juga pimpinan perusahaan, seperti Benny Tjokrosaputro, Heru Hidayat, Bety Halim, Edward Soeryadjaja dan lainnya 

Mereka juga sejauh ini telah diperiksa berulang seperti  Dirut PT. Arya Jaja Kemuning Lina Supriyanti, mulai  Selasa (17/5), Rabu (27/4) dan Rabu (6/4). 

Lalu, Mantan Direktur PT. Duta Sari Sejahtera HT diperiksa, Kamis (12/5), WT (Direktur PT. Duta Sari Sejahtera),  Rabu (27/4).

Lainnya,  G (Dirut  PT. Bangun Era Sejahtera) dan  AH (Direktur PT. Prasasti Metal Utama), Rabu (27/4).

Kemudian, Dirut PT. Intisumber Bajasakti (IB)  ETL, Selasa  (12/4) dan terakhir Selasa (19/4) dan TS (Dirut PT. Perwira Adhitama Sejahtera), Rabu (30/3).

Sementara Jajaran Kementerian Lintas Sektoral, terdiri  Direktur Impor Moga Simatupang, Ditjen Daglu, Kemdag, Senin (21/3) dan Sekretaris Direktur Impor  Hira Nur Syahadah.

Serta dari Jajaran Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan, Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa  Nirwala Dwi Heryanto, Rabu (23/3).

Selain itu,  Untung Basuki (Direktur Fasilitas Kepabeanan dan R. Fadjar Donny Tjahjadi (Direktur Teknis Kepabeanan),   Selasa (22/3).

Jajaran Kementerian Perindustrian, Budi Santoso (Direktur Industri Logam Periode 2021-2022,  Ditjen Ilmate), Senin (18/4)

WOODLAND PARK 

Kapuspenkum menjelaskan peranan BHL ini terkait pengurusan 6 usaha impor besi atau baja melalui Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) PT Meraseti Logistik Indonesia miliknya dalam kurun waktu 2016 – 2021.

Dalan penjelasannya terungkap pula, selain memberi uang pelicin Rp50 juta kepada tersangka TB (Kasubag TU Direktorat Impor) guna meloloskan proses impor terkait pengurusan Surat Penjelasan (Sujel) di Direktorat Impor, Ditjen Daglu, Kemdag, Selasa (31/5).

BHL dan anak buahnya, tersangka T (Manajer PT. Merasati Logistik) ternyata juga menyerahkan uang kepada C (Alm), ASN di Direktorat Ekspor, Kemdag. Dimana setiap pengurusan 1 Sujel Tersangka T menyerahkan secara tunai uang tersebut yang dilakukan  bertahap, di Apartemen Woodland Park Residence Kalibata milik Sdr. C (Alm).

Sujel yang diurus oleh Tersangka BHL dan Tersangka T digunakan untuk mengeluarkan besi atau baja dan baja paduan dari Pelabuhan/dari Wilayah Pabean seolah-olah impor tersebut untuk kepentingan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh perusahaan BUMN, yakni PT. Waskita Karya,  PT. Wijaya Karya,  PT. Nindya Karya dan PT. Pertamina Gas. 

“Dengan Sujel tersebut, maka pihak Bea dan Cukai mengeluarkan besi atau baja dan baja paduan yang diimpor oleh ke-6  Korporasi, ” terang Ketut.

Berdasarkan Sujel yang diterbitkan Direktorat Impor, maka import besi atau baja dan baja paduan dari China yang dilakukan oleh ke-6 Korporasi dapat masuk ke Indonesia melebihi dari kuota impor dalam PI (Persetujuan Impor) yang dimiliki ke-6 Korporasi.

Setelah besi atau baja dan baja paduan masuk ke wilayah Indonesia kemudian oleh ke-6  Korporasi dijual ke pasaran dengan harga yang lebih murah daripada produk lokal sehingga produk lokal tidak mampu bersaing. 

“Perbuatan ke-6 ( Korporasi menimbulkan kerugian Sistem Produksi dan Industri Besi Baja Dalam Negeri (Kerugian Perekonomian Negara), ”  pungkas Ketut. (ahi))