Kembali, Jajaran Manajemen PLN Digojlok Ungkap Skandal PLN Senilai Rp2,251 T

PORTALKRIMINAL.ID -JAKARTA: Kejaksaan Agung kembali gojlok Jajaran Manajemen PT. PLN guna mencari tersangka Skandal Penggadaan Tower Transmisi (PLN) senilai Rp2, 251 triliun (T), 2016.

Namun, sampai pemeriksaan usai terhadap dua orang dari Manajemen PLN belum satu pun ditetapkan tersangka dan dicegah bepergian ke luar negeri.

Mereka yang diperiksa, di Gedung Bundar, Pidsus adalah PA (Staf pada PLN Pusenlis) dan YMS (GM UIP Nusa Tenggara Tahun 2017-2018).

Kapuspenkum Dr. Ketut Sumedana mengatakan kedua saksiitu diperiksa terkait pengadaan tower transmisi tahun 2016 pada PT PLN (persero).

“Upaya tersebut dilakukan guna memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan, ” jelasnya, Selasa (9/8) malam.

Pemeriksaan ini terkait dugaan adanya keterlibatan oknum Petinggi PLN yang selalu mengakomodir Aspatindo (Asosiasi Pabrikan Tower), terutama Ketua Aspatindo Saptiastuti Hapsari.

Diketahui, Saptiastuti Hapsari adalah juga Direktur Operasional PT. Bukaka yang diduga dimiliki kerabat Jusuf Kalla.

SOPYAN BASIR

Guna membongkar praktik koruptif itu, Jajaran Direksi PLN era Dirut Sopyan Basir terus dikuliti sejak disidik, 14 Juli lalu dengan No: Print-39/F.2/ Fd.2/ 07/2022.

Terakhir, Senin (8/8) diperiksa Amir Rosidin ( Direktur Bisnis Regional Sumatera Tahun 2015 – 2017).

Sebelumnya, Selasa (2/8) Jajaran Direksi PT. PLN yang diperiksa, adalah Nasri Sebayang (Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat). 

Lalu, Supangkat Iwan Santoso (Direktur Penggadaan 2015 – 2019) serta, SS (Eks Kadiv Konstruksi Regional Jawa Bagian Barat pada Dit. bisnis Regional Jawa Bagian Barat 2015-2016).

Sehari sebelumnya, Senin (1/8) diperiksa Machnizon Masri (Direktur Bisnis Regional Sulawesi). 

Sementara itu agenda pemeriksaan Ketua Aspatindo dan Jajaran Pengurus Aspatindo belum diketahui.

Padalah, seperti dijelaskan Kapuspenkum, Senin (25/7) proyek itu dikerjakan Pengurus Aspatindo, khususnya PT. Bukaka yang memonopoli proyek tersebut.

Dalam pengerjaan, ditemukan banyak penyimpangan mulai, molornya pengerjaaan hingga bertambahnya volume proyek semula 9085 tower menjadi sekitar 10. 000 tower. (ahi)