Usai Dirut PT. PRM Amar Maaruf, PT. PRM Bakal Susul Jadi Tersangka Korporasi?

PORTALkRIMINAL.ID- JAKARTA: Usai Dirut PT. Prioritas Raditya Multifinance (PRM) Amar Maaruf ditetapkan tersangka baru Skandal Taspen, PRM segera dijerat tindak pidana (tersangka) korporasi ?

“Kenapa tidak ? Sebab PT. PRM diduga dijadikan alat oleh tersangka untuk memperkaya diri sendiri, ” kata Ketua Tim Advokasi Patriot Indonesia (TAPI) Iqbal Daud Hutapea, Minggu (14/8).

Selain itu, menurut Iqbal menjadikan badan usaha sebagai tersangka bukan hal baru, seperti 13 tersangka korporasi Skandal Jiwasraya dan 10 tersangka korporasi Skandal Asabri.

Namun, Iqbal mengingatkan semua tergantung kepada alat bukti yang dimiliki.

“Kita serahkan sepenuhnya kepada Kejagung dan pastinya, kita dukung setiap langkah pemberantasan korupsi guna memiskinkan koruptor, ” akhirinya.

Terakhir, Kamis (11/8) telah ditetapkan Dirut PT. PRM Amar Maaruf sebagai tersangka dan langsung dijebloskan ke penjara usai diperiksa.

Amar menyusul dua rekannya yang telah dijadikan tersangka, Rabu (29/3), yakni
Dirut PT. Asuransi Jiwa Taspen (AJT) Maryoso Sumaryono dan Owner PT. Sekar Wijaya Hesti Sri Wahyuni. 

Seperti Maryoso dan Hesti, maka Amar juga terancam dipidana seumur hidup atau paling lama 20 tahun, sebab AM dijerat Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Tipikor No. 31/1999 seperti diubah dengan UU No. 20/2001.

CABUT IZIN USAHA

Perusahaan PRM, sejak 2 Agustus 2018 Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  telah mencabut izin usaha perusahaan ventura PT. PRM.

Pencabutan izin itu tertuang dalam Keputusan Dewan Komisioner No: KEP-93/D.05/2018, tanggal 27 Juli 2015.

Belum diketahui alasan Manajemen PT. Asuransi Jiwa Taspen (AJT) anak usaha PT. Taspen (BUMN) percaya atas kredebilitas PT. PRM.

Akibat kesembronoan dan atau memang ada dugaan permufakatan jahat, berakibat timbul kerugian negara sebesar merugi Rp133 miliar lebih.

Padahal, seperti dijelaskan Leonard EE. Simanjuntak, Kapuspenkum (saat itu) saat meriilis Sprindik bernomor : Print-81/F.2/Fd.2 /01/2022, 4 Januari 2022, PT. PRM tidak punya performa baik.

Dalam hal ini, belum memiliki peringkat investment grade yang dikeluarkan oleh perusahaan pemeringkat efek yang diakui oleh OJK.

Disamping itu, MTN (Medium Term  Note) maupun KPD (Kontrak Pemgelolaan Dana) tidak termasuk Instrumen Investasi yang diperkenankan dalam portofolio investasi Taspen Life.

“PT. PRM selaku penerbit MTN tidak memiliki fundamental keuangan yang baik, yakni dengan tingkat Dept Equity Ratio (DER-rasio utang terhadap modal) kurang dari satu, ” pungkasnya.

BELUM TERSENTUH

Dengan ditetapkan Amar Maaruf sebagai tersangka baru, kini tinggal menunggu nasib Pengiris PT. Nusantara Alamanda Wirabhakti (NAW) dan PT. Bumi Mahkota Jaya (BMJ).

Seperti diungkapkan Leonard, mereka disebut-sebut  sebagai pihak yang membeli tanah jaminan dan jaminan tambahan PT. PRM usai gagal bayar. 

Perusahaan PRM adalah Underlying Kontrak Pengelolaan Dana di PT. Emco Asset Management selaku Manajer Investasi atas penempatan dana PT. AJT sebesar Rp150 miliar,  17 Oktober 2017. (ahi)