Polres Jakarta Pusat Bongkar Empat Kasus Peredaran Narkoba Jaringan Malaysia

PORTALKRIMINAL.ID – JAKARTA : Polisi menangkap sejumlah bandar sabu beserta kurirnya di wilayah Kecamatan Senen, Jakarta Pusat (Jakpus). 

Barang bukti yang diamankan sebanyak 555,49 gram sabu dari Malaysia.

“Pada hari ini kami dari Polsek Senen mengadakan press release kasus penyalahgunaan narkoba yang terjadi di wilayah hukum Polsek Senen. Dalam hal ini kami mengamankan 5 tersangka terkait dengan 4 perkara,” kata Kapolsek Senen, Kompol Resa Fiardy Marasabessy kepada wartawan, Senin (3/10).

Kasus pertama, lanjut Resa, tersangka atas nama H diamankan di Kelurahan Senen. Dia berperan sebagai bandar, dengan barang bukti yang diamankan sebanyak enam paket sabu.

Untuk kasus pertama, mengamankan tersangka atas nama H alias O. Tersangka diamankan di Jalan Senen Dalam, Kelurahan Senen. 

Yang diamankan ini inisial A. Perannya bandar, dan barang bukti yang diamankan 6 bungkus plastik klip sedang yang berisi kristal sabu.

“Dengan berat masing-masing 100,92 gram, 101,02 gram, 101,02 gram, 101,02 gram, 101 gram, dan 50,51 gram,” paparnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Senen AKP Ganang Agung mengatakan para tersangka ditangkap dalam kurun waktu dua minggu. Tersangka ditangkap dengan beragam ukuran barang bukti sabu.

Dimana ada lima orang di wilayah Senen semua

Selanjutnya adalah tersangka alias B. Untuk jumlah barang bukti yang diamankan sejumlah 32,76 gram diamankan di Senen.

 Untuk LP selanjutnya, tersangka dengan inisial MFS diamankan dengan jumlah total barang bukti 4 gram.

“Dan yang terakhir kita amankan tersangka dua orang dengan inisial MDP dan DP dengan total jumlah 5,4 gram,” ungkapnya.

Tersangka mengaku mendapat sabu tersebut dengan mengimpor dari Malaysia. Polisi masih memburu satu terduga lainnya dalam kasus ini.

“Sampai saat ini ada satu DPO inisial ADN yang sedang kami kembangkan,” paparnya.

Pada tersangka dikenakan Pasal 114 ayat 2 subsider Pasal 112 ayat 2 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dimana tersangka terancam hukuman penjara 5 tahun dan paling lama 20 tahun. (Nugroho)