Telusuri Aliran Dana Pengamanan Kasus BTS, Direktur Gratindo Dwi Makmur Kembali Dicecar

PORTALKRIMINAL.ID -JAKARTA: Ungkap aliran dana pengamanan kasus BTS, Direktur PT. Gratindo Dwi Makmur (GDM) inisial WK kembali diperiksa untuk ketiga kalinya.

Namun, sampai pemeriksaan usai di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung statusnya tidak berubah dan tidak dicegah bepergian ke luar negeri.

Selain, hingga selesai pemeriksaan belum diketahui peran dan keterkaitan Direktur PT. GDMberinisial WK dalam Skandal Pengamanan BTS 4G.

Kapuspenkum Dr. Ketut Sumedana enggan mengomentari lebih jauh soal WK dalam pusaran perkara tersebut.

“Dia diperiksa guna memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan sekaligus membuat terang tindak pidana (cari tersangka baru, Red), ” katanya, Jumat (15/12) malam.

Terakhir diperiksa adalah pada Kamis (13/7). Pemeriksaan pertama terhadap WK adalah pada Senin (19/6/2023).
Secara terpisah, Kejagung juga memeriksa SW selaku Direktur PT. Dolarindo Money Changer Buah Batu.

Pemeriksaan ini yang kedua buat perusahaan jasa penukaran uang asing setelah pertama terhadap GS juga selaku Direktur PT. Dolarindo Money Changer Buah Batu Bandung, Jabar pada Jumat (8/12).

MASIH SAMAR

Seperti halnya PT. Dolarindo Money Changer Buah Batu, PT. Gratindo Dwi Makmur juga berlokasi di Bandung, tapi di Kabupaten Bandung bukan Kota Bandung.

Sejauh ini belum terurai alasan Gratindo yang bergerak pada bidang usaha Jasa Pelaksana Instalasi Tenaga Listrik Gedung dan Pabrik dan lainnya harus berurusan dengan perkara BTS seperti halnya Dolarindo.

“Pada prinsipnya, setiap ada pihak yang dianggap bisa membantu menguak perkara akan kita periksa, ” tutur sebuah sumber.

Tentang status dan keterkaitan pihak yang diperiksa ?

“Bisa terkait langsung, bisa juga untuk membantu membuat terang perkara, ” sebutnya memberi alasan.

Patut diduga pemeriksaan ini bagian untuk mencari aliran dana haram pengamanan kasus BTS, baik di dalam negeri dan luar negeri.

Sebab itu pula, pada Jumat (8/12) Direktur PT. Duit Sono Sini Remittance (DSSR) insial CS sampai dua kali diperiksa pada Jumat (8/12) dan Selasa (12/12). Perusahaan ini menawarkan jasa pengiriman uang ke luar negeri.

Selain itu, isteri Edward Hutahaean inisial SS sampai diperiksa dua kali dan sedan sport super mewah Porsche tipe Carera Disita dari tangannya .

Edward bersama Sadikin Rusli dan Achsanul Qosasi sudah dijadikan tersangka dan ditahan.

BPKP

Dana haram dimaksud, adalah dana yang diduga diterima Sadikin Rusli sebesar Rp 40 miliar dari Windi Purnama atas arahan Irwan Hermansyah dan Galumbang MS untuk BPK.

Ketiga orang terakhir sudah berstatus tersangka. Bahkan, Irwan (Komisaris PT. Solitech Media Sinergy) dan Galumbang (Dirut PT. Moratelindo) sudah divonis bersalah oleh pengadilan.

Selain itu, aliran dana Rp 15 miliar yang diduga diterima Edward Hutahaean dan Achsanul Qosasi yang menerima Rp 40 miliar dari Sadikin Rusli.

Atas dugaan penerimaan uang oleh Achsanul Qosasi selaku Anggota BPK, maka permintaan audit kerugian negara oleh Kejagung diajukan permohonan kepada BPKP.

BPKP pun menjawab tuntas permintaan Kejagung dan dihadapan wartawan beberapa waktu lalu, disebutkan kerugian negara Rp 8. 032 triliun. (ahi)