Kapolres Tulungagung Ungkap Kematian Anak di Bawah Umur di Kecamatan Ngantru Karena Racun

PORTALKRIMINAL.ID – TULUNGAGUNG: Polres Tulungagung mengungkap kasus kematian seorang anak berinisial SC (5) meninggal dunia karena racun.

Kapolres Tulungagung AKBP Teuku Arsya Khadafi mengatakan terkait dengan peristiwa ditemukannya seorang anak meninggal di rumahnya pada 1 Februari 2024 di wilayah Kecamatan Ngantru.

“Pihak Polres Tulungagung bersama Polsek Ngantru melakukan penyelidikan, terhadap ibu korban yang di rawat di rumah sakit. Kami melakukan tindakan penyelidikan dan penyidikan diketahui bahwa korban meninggal, dikarenakan di dalam lambungnya ditemukan racun,” ujar AKBP Arsya di Polres Tulungagung, Jumat (23/2/2024).

Atas peristiwa tersebut pihak kepolisian melakukan tindakan penyelidikan dan penyidikan terhadap ibu korban berinisial YM yang punya niat bunuh diri bersama anaknya, dengan cara meminumkan racikan berisi berbagai macam obat yang dicampur dengan racun tikus.

“Saat peristiwa itu terjadi YM dan SC minum racun. Namun YM berhasil diselamatkan dengan dibawa ke rumah sakit, sedangkan korban SC kodisi tidak terselamatkan sehingga meninggal dunia”, ucap AKBP Arsya.

Penyidik melakukan pengamanan barang bukti seperti gelas yang digunakan oleh tersangka dan korban untuk melakukan proses tindakan bunuh diri. Kemudian juga mengamankan muntahan maupun isi cairan lambung dari korban, beberapa obat yang diduga merupakan obat penghilang nyeri, pakaian korban pada saat ditemukan meninggal dan bantal guling yang digunakan oleh korban pada saat meninggal.

“Dari keterangan tersangka memang yang bersangkutan dengan suaminya ini sudah memiliki konflik terkait pernikahannya cukup lama. Sehingga niat itu sudah ada, akan tetapi yang menjadi pemicunya adalah pada saat percocokan suaminya. Jadi usai cekcok tersangka berniat bunuh diri dengan membawa anaknya,” ujar AKBP Arsya.

Kapolres berharap dengan terjadinya kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk kita semua, agar orang tua selalu berpikir dengan jauh lebih matang agar tidak lagi mengedepankan egonya. Kemudian mengakibatkan kerugian bahkan kematian bagi anak, ini merupakan perhatian kita bersama. Kita berharap dan peristiwa ini tidak terjadi lagi. 

Tersangka dijerat Pasal 44 ayat (3) UURI No. 23 tahun 2004 tentang penghapusan kdrt dan atau Pasal 76C JO Pasal 80 ayat (3) UU RI Nomor 23 Tahun 2002 sebagaimana diubah dengan uuri nomor 35 tahun 2014 sebagaimana diubah dengan UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah penganti undang-undang nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang-Undang dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara. (Amin)