JAKARTA – Di dalam ruang sidang Pengadilan Militer II-08 Jakarta Timur yang kaku, Kamis siang itu (7/5/2026), sebuah istilah yang biasanya terdengar sepele meluncur dari bibir seorang jenderal purnawirawan bintang dua: “Kenakalan.”
Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, duduk tenang di kursi saksi ahli. Di hadapannya, empat prajurit TNI berseragam rapi duduk tegap sebagai terdakwa. Mereka dituduh melakukan aksi yang jauh dari kata ringan: menyiramkan air keras ke tubuh Andrie Yunus.
Namun, bagi Ponto, serangan yang merusak fisik korban itu bukanlah sebuah desain besar dari institusi telik sandi. Ia menyebutnya sebagai sisi gelap dari emosi prajurit yang gagal dikendalikan.
Antara Bayang-bayang dan Realita
Dengan kacamata khas dan nada bicara yang lugas, Ponto membedah anatomi operasi intelijen di depan majelis hakim. Baginya, menyeret-nyeret nama “operasi intelijen” ke dalam kasus penyiraman air keras ini adalah sebuah kekeliruan logika yang fatal.
“Kalau operasi intelijen itu betul-betul dijalankan, Andrie itu akan menguap kalau tidak menyublim,” ujar Ponto.
Ruangan hening sejenak. Kalimat itu adalah metafora dingin tentang bagaimana dunia intelijen bekerja: rapi, senyap, dan tanpa jejak. Jika benar itu adalah operasi negara, menurut Ponto, nama Andrie Yunus mungkin hanya akan menjadi catatan kaki yang hilang dalam sejarah, bukan tajuk utama berita atau berkas perkara yang ditumpuk di meja hakim.
Ponto menekankan bahwa intelijen sejati adalah hasil dari pelatihan melelahkan selama enam bulan, dipilih dari sosok-sosok terbaik, dan digerakkan hanya untuk satu kompas: Kepentingan Strategis Negara.
Pemicu di Balik Seragam
Lantas, jika bukan operasi intelijen, apa yang terjadi pada keempat terdakwa yang notabene adalah orang-orang terdidik dan terlatih? Ponto melihatnya sebagai “kenakalan” orang-orang terpilih yang kehilangan kendali saat menghadapi pemicu emosional.
“Kita tidak tahu di dalam hatinya ada apa yang sedang bergejolak,” katanya sembari menganalisis psikologi para prajurit itu. “Tetapi ketika menemukan pemicu, maka muncullah ide-ide kenakalan seperti ini.”
Di mata Ponto, aksi ini adalah bukti sebuah kecerobohan yang impulsif. Para pelaku—dari perwira hingga bintara—dianggapnya gagal melihat risiko jangka panjang. Mereka meninggalkan jejak yang begitu benderang hingga menyeret mereka sendiri ke balik jeruji besi.
Kecerobohan yang Telanjang
Bagi sang mantan bos intelijen, kehadiran para terdakwa di pengadilan hari ini adalah bukti paling telanjang bahwa tidak ada “tangan tersembunyi” yang profesional di balik serangan itu.
“Buktinya apa? Dia tidak lihat risiko. Orang nakal kan tidak lihat risiko,” tambah Ponto dengan nada retoris.
Baginya, operasi intelijen yang gagal sekalipun tetap akan menyisakan selubung kerahasiaan. Namun dalam kasus ini, semuanya tampak seperti sebuah kekacauan yang brutal—sebuah tindakan gelap dari oknum yang lupa akan marwah pendidikan militer mereka.
Sidang berakhir dengan sebuah garis tegas yang ditarik oleh sang ahli: ada jarak yang sangat lebar antara tugas suci menjaga negara dan dendam pribadi yang dibungkus air keras. Dan di Penggilingan sore itu, sejarah sedang mencatat mana yang benar-benar sebuah operasi, dan mana yang sekadar tindakan kriminal yang ceroboh. (Ralian)












