Oleh Abdul Haris Iriawan *)
PROGRAM MBG (Makan Gizi Gratis) digugat Publik pasca Dadan Hindayana dan dua wakilnya ditetapkan tersangka.
Dari pengamatan di Medsos dan lapangan banyak pihak meminta program unggulan Prabowo Subianto itu diganti dengan program sekolah gratis dan kesehatan gratis.
Intinya, program MBG menurut mereka lebih banyak mudharat dari kemanfaatannya.
Sebaliknya, program tersebut telah dijadikan bancakan oleh para penyelenggara negara, termasuk kalangan oknum legislatif dan keluargan mereka guna memperkaya diri dan orang lain.
Dorongan untuk menghentikan atau mengganti program MBG menguak lagi lantaran banyak pihak mempertanyakan integritas Nanik S. Dayang yang ditunjuk sebagai Ketua BGN yang baru.
Selain manajemen dan pengawasan yang amat dan sangat buruk.
Pertanyaannya sederhana, dia adalah bagian dari pengurus BGN (Badan Gizi Nasional) dan duduk sebagai wakil ketua.
Apa mungkin dia tidak tahu dugaan praktik koruptif dalam pengelolaan MBG oleh Dadan bersama Sony Sonjaya dan Lodewyk Paulus?
Seandainya, dia memang tahu. Pertanyaannya, kenapa dia hanya diam dan tidak menentukan sikap ?
Demikianlah kira-kira aneka pertanyaan yang menyoal kredibilitas Nanik yang mencuat di anaka platform media sosial.
Program MBG juga sangat membebani APBN 2026. Sampai akhir Mei 2026, defisit APBN tercatat Rp180,4 triliun setara dengan 0,70% terhadap PDB (Produk Dimestik Bruto).
Realisasi ini selisih dari pendapatan negara sebesar Rp1.185 triliun dan belanja negara yang mencapai Rp1.365,4 triliun.
Walau kemudian, pemerintah pastikan angka tersebut masih terbilang sangat aman dan terkendali, serta sejalan dengan desain target defisit dalam UU APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp 689,1 triliun (sekitar 2,68% dari PDB).
Anggaran MBG untuk tahun 2026 sebesar Rp 268 triliunan dari rencana awal Rp 335 triliun tindak lanjut dari kebijakan efisiensi.
Terakhir, kurs Dolar AS yang terus terbang dan terakhir mencapai angka Rp 18. 000 per dolar AS. Sementara asumsi APBN adalah Rp 16.500.
IKUTI LANGKAH HABIBIE ?
Pada akhirnya, suka tidak suka Prabowo Subianto sebagai Presiden harus menentukan sikap.
Semakin lama dibiarkan sama artinya memelihara luka, yang bakal menjadi duri bagi Prabowo untuk melangkah jauh.
Baik, kapasitas dan kredibilitas serta keinginannnya untuk berlaga lagi pada Kontestasi Pilpres, 2029.
‘Pembiaran’ tanpa solusi atas kesemrawutan MBG juga membuka ruang bagi kalangan ‘Oposisi’ untuk melancarkan kritik juga menambah deretan Publik yang kecewa dan hampir pasti tidak akan memilih Prabowo lagi pada Kontestasi Pilpres 2029.
Kuping Prabowo pasti akan dibuat panas dan bisa jadi akan ‘terpancing’ untuk membuat statement yang lebih gahar daripada meminta yang tidak suka kepada dirinya untuk dipersilahkan pergi ke Yaman.
Sesungguhnya waktu bagi Presiden sangat sempit. Sempit, karena menjadikan Dadan dan dua wakilnya sebagai tersangka ternyata belum memuaskan Publik. Sebaliknya, mereka meyakini program itu bermasalah.
Sementara itu disisi lain, rakyat akan lebih menderita lagi karena harus merogoh dalam- dalan kantong yang sudah kering, guna membiayai hidup dan pendidikan anak-anak.
Yang akhirnya, akan membuka ruang Publik turun ke jalan dan Peristiwa Mei 1998 berulang ?
Jika menengok sejarah ke belakang, ada dua pilihan, yakni mundur seperti dilakukan Pak Harto. Satu lagi, membatalkan Program Pembuatan Pesawat Komersial N250 dan N2130 seperti pernah dilakukan oleh Presiden BJ. Habibie.
Pria kelahiran Pare Pare, Sulsel yang tercatat sebagai orang pertama di luar Pulau Jawa menjadi Presiden, sangat membanggakan proyek pengembangan dari CN-235 dan bakal mencatatkan Indonesia di luar Eropa dan AS sebagai produsen pesawat terbang.
Nasib Habibie tidak lebih baik dari Guru-nya.
Kendati proyek andalannya dibatalkan, dia harun turun dari jabatannya lantaran pertanggung jawabannya ditolak MPR.
Namun mereka memiliki sikap yang sama, kenegarawanan. Demi kepentingan rakyat, mereka berani meninggalkan ego-nya lepas dari aneka kepentingan IMF yang didominasi AS dan sekutunya untuk terus menjadikan Indonesia sebagai konsumen.
Serta, para pengkhianat yang terpinggirkan dan kalangan dekat Pak Harto yang berambisi menjadi orang nomor satu ?
Saat itu, Pak Harto dihadapkan pada melonjaknya kurs Dolar AS yang patut diduga telah didesain oleh asing dan antek aseng dan asing mengingat Pak Harto sudah berubah orientasi politik (teologis) dan tidak dapat dikendalikan oleh AS lagi ?
Dua-duanya pahit. Tapi demi kepentingan rakyat, Anda akan dicatat dalam sejarah.
Dalam konteks ini, Anda masih dipercaya sebagai Presiden dan punya kesempatan mencalonkan diri pada Kontestasi Pilpres 2029, bila segera diambil sikap dan tidak membiarkan situasi memburuk yang lalu menempatkan Anda pada dilema.
Rakyat menunggu dengan cemas di tengah terus melambungnya kurs Dolar AS seraya terus mengingatkan diri untuk lebih hati-hati memilih pemimpin di masa datang.
Cukup sudah kami hanya dijadikan Objek Pemburu Kekuasaan. Kami Ingin Menjadi Subjek. Pemimpin yang berani mengajak rakyat berpartisipasi dalam pembangunan: Kami akan Pilih ! (Wartawan Senior *)












