Abdul Haris Iriawan *)
LEONARD EE. Simanjuntak tiba-tiba menghiasai media online sepekan terakhir. Dia disebut -sebut bakal menggantikan ST. Burhanuddin sebagai Jaksa Agung bagian dari Reshuffle yang akan dilakukan Presiden Prabowo Subianto.
Isu pun terus menggelinding karena Prabowo di aneka kesempatan singgung akan melakukan pergantian anggota kabinet guna meningkatkan efektifitas kinerja Kabinet Merah Putih.
Kembali kepada isu pergantian Jaksa Agung.
Dalam sejarahnya, baru satu orang yang sempat ditunjuk sebagai Jaksa Agung dua kali berturut-turut.
Hendarman Supanji namanya. Namun setahun menjabat periode kedua Pemerintahan SBY tahun 2010 Hendarman diganti Alm. Basrief Arief paska gugatan Yusril Ihza Mahendra dikabulkan Mahkamah Konstitusi.
Alasannya, Jaksa Agung adalah anggota kabinet.
Saat masa tugas kabinet berakhir dia menjadi non-aktif. Maka, saat ditunjuk kembali sebagai Jaksa Agung harus diterbitkan Keppres baru.
Burhanuddin adalah orang kedua yang menduduki kursi Jaksa Agung kembali periode kedua.
Sejauh ini, tidak ada persoalan besar yang memaksa Presiden harus menggantinya. Kalaupun ada hanya isu soal wanita lain yang ternyata sampai kini sebatas isu.
LATAR BELAKANG TEKNIS
Kita tinggalkan isu itu, kembali kepada sosok yang pantas menggantikan Burhanuddin bila kemudian benar Prabowo akan menggantinya bersama sejumlah anggota kabinet lain.
Latar belakang teknis, dalam hal ini kecakapan dalam menangani perkara korupsi harus menjadi parameter utama seiring Program Asta Cita Prabowo yang ingin memberantas korupsi semaksimal mungkin dan disampaikan berulang -kali dalam berbagai forum.
Selanjutnya, kemampuan manajerial dalam menata organisasi yang dipimpin calon yang bersangkutan sehingga menimbulkan kenyamanan bagi mereka yang berada dalam Satker (Satuan Kerja) tersebut.
Termasuk di dalamnya Public Speaking Skill agar masyarakat bisa terus mengikuti perkembangan perkara yang sebelum ini diimplementasikan Jaksa Agung sebelum ini melalui tanya jawab usai sholat Jumat.
Terakhir, adalah memiliki latar belakang intelijen.
Hal ini mendesak mengingat banyak kejadian muncul tekanan berupa fisik atau non-fisik saat penanganan perkara Mega Skandal Korupsi.
Seperti Drone yang terbang di atas Kantor Gedung Menara Kartika Adhyaksa, Jampidsus Dr. Febrie Adriansyah dikuntit dua Oknum Densus 88 Jateng beberapa bulan lalu.
LALU SIAPA ?
Dari sejumlah kriteria di atas, banyak calon mumpuni dan bahkan ada yang melampaui ekspektasi. Sesuatu yang tidak mungkin menjadi benar adanya.
Sebut saja sebagai contoh, skandal tambang timah ilegal, skandal impor dan ekspor minyak mentah serta Blending RON 90 menjadi RON 92.
Nama-namanya yang masuk kategori dimaksud, Dr. Febrie Adriansyah, Dr. Asep N. Mulyana, Dr. Reda Mathovani.
Untuk pensiunan jaksa, seperti Dr. Setia Untung Arimukadi, Dr. Firdaus Dewilmar, Dr. Ali Mukartono dan lainnya.
Febrie, Jaksa Senior yang dilahirkan 57 tahun lalu di Lahat, Sumsel adalah satu dari dua Jaksa yang pernah menduduki jabatan Direktur Penuntutan dan Direktur Penyidikan. Satu lainnya, adalah Arnold Angkouw. Bedanya, Arnold keburu pensiun.
Sedangkan Febrie yang mengawali karir Jaksa di Gedung Bundar alias Pidsus Kejaksaan Agung melanjutkan karir sampai Jaksa Agung Muda Pidana Khusus.
Dalam kinerja, Febrie nyaris sepadan dengan Ali Mukartono sama-sama mengungkap Mega Skandal Korupsi.
Antara lain, skandal Jiwasraya. Khusus satu ini diawali oleh kiprah Dr. M. Adi Toegarisman. Lantaran masuk purna Jaksa digantikan Ali Mukartono, Februari 2020.
Pembedanya dengan Ali yang masuk purna Jaksa 2024, Febrie yang sempat dipercaya sebagai Koordinator Intelijen terus berlanjut. Berkolaborasi dengan Jampidmil bongkar kasus Satelit, 2022.
Seterusnya, bongkar Skandal Garuda, Tambang Timah Ilegal, Suap dan atau Gratifikasi Hakim pada PN. Surabaya dan PN. Jakarta Pusat.
Terakhir, awal Januari 2025 dipercaya Presiden Ketua Pelaksana Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dan dua bukan lalu serahkan 1 juta hektar lahan yang dikuasai tanpa hak kepada PT. Agrinas.
Untung, bisa disapa sempat berkarir sebagai Aspidsus Kejati Jateng dan dipercaya sebagai Sesjamintel dan Kapuspenkum serta Kaban Diklat. Lalu, Wakil Jaksa Agung.
Firdaus nama yang sohor saat menangani kasus Pipanisasi Pulau Jawa dan aneka perkara ketika dipercaya sebagai Kajati Sulsel. Juga, lama berkecimpung di Intelijen. Kini, Staf Khusus di Kementerian ESDM.
Nama lain, Reda sempat berkecimpung di Timtas Tipikor bentukan Jampidsus Hendarman Supanji dan lama mengabdi di Jambin sebagai Karo Perencanaan. Kini, Jamintel.
Nana Asep Mulyana, sempat menjadi kasi di Aspidsus Kejati DKI, berkarir di Gedung Bundar dan menjadi Asus Jaksa Agung dan dipercaya sebagai Dirjen Perundangan, Kemenkumham (saat itu). Kini, Jampidum.
Leonard sempat menjadi Kapuspenkum, Kajati Banten dan Sulsel.
PEMBACA SUDAH TAHU
Pertanyaan pamungkas. Siapa diantara mereka yang bakal dipercaya ?
Jika melihat Presiden Prabowo Subianto membenahi berbagai sektor pasti orang terbaik dan berkinerja luar biasa.
Sebagi contoh, Kabulog Letjen TNI Purn Novi Helmy Prasetya yang berlatar belakang Kopassus dan pernah ditugaskan di berbau medan laga dan penugasan lin langsung membuat kinerja Bulog kinclong bekerjasama dengan Mentan Amran Sulaiman membuat Indonesia tidak impor beras lagi.
Hal luar biasa Indonesia miliki cadang beras 1, 3 juta. Pertama dalam sejarah istilah Prabowo.
Lalu, penunjukan Pati (Perwira Tinggi ) lainnya Letjen TNI Purn Djaka Budhi Utama juga berlatar belakang Kopassus. Kiprahnya masih ditunggu baru dua hari dilantik.
Selain itu, Burhanuddin dalan Rakernis Pidsus tahun 2024 sempat sebut Gedung Bundar adalah Kopassus-nya Kejaksaan.
Pasti pembaca sudah tahu.
Tapi sebagai orang beragama, kita tidak boleh mendahului Sang Pencipta: Allah SWT. (Wartawan Senior *)












