Oleh: Abdul Haris Iriawan *)
MASIH ingatkah peristiwa Nine-One One (11 September, Red), jatuhnya Saddam Hussein dan Muammar Khadafy dari singgasananya ?
Semua sumpah serapah ditujukan ke Osama bin Laden. Yang kemudian, dijadikan alasan Presiden AS (saat itu) George Bush Jr untuk menghabisi Saddam dan Muammar karena tuduhan prematur mereka yang melindungi dan membiayai gerakan Osama bin Laden.
Saat itu, dari singgasananya George Bush dengan lantang dan sombongnya seperti Donald Trump menggambarkan perang melawan perang melawan Islam Radikal seperti The New Crusade War.
Narasi terbangun begitu rupa dan dimonopoli Media Barat dan jaringan Media yang langsung dan tidak langsung menjadi binaan CIA dan Mossad dengan intensif menyebar luaskan ke pelosok dunia dan, akhirnya membuat warga dunia menjadi percaya.
Seiring waktu, akhirnya terungkap terang-benderang. Peristiwa 11 September dilakukan oleh jaringan CIA dan Mossad semata untuk menghabisi Osama.
Peristiwa itu pula dijadikan pintu untuk melakukan pembusukan terhadap Islam. George Bush adalah pemeluk Kristen Evangelis Ortodoks.
Mereka seakan melupakan jasa baik Osama yang dibiayai dan diperas jarai untuk melawan pendudukan Uni Soviet atas Afghanistan dan keluarganya memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Presiden.
Irak yang terakhir juga dituding memiliki senjata nuklir digulingkan, berikutnya Muammar: Pintu masuk poros-poros kekuatan Islam.
Kenyataan tudingan Irak memiliki senjata nuklir adalah Bulshit.
Tudingan serupa diarahkan ke Iran. Tanpa mandat PBB, Donald Trumpt bersama Benyamin Setanyahu, Imigran dari Polandia secara sepihak menyerbu Iran pada 28 Februari 2025.
Pembedanya dengan Irak dan Libia, Iran justru bisa bertahan dan dunia pun dibuat tercengang.
Dunia pun akhirnya terbuka mata dan pikiran sehingga warga dunia memberikan dukungan kepada Iran: Tudingan kepemilikan senjata nuklir juga Bulshit.
Lalu apa maknanya dari aneka kejadian itu?
Patut diduga, untuk melanggengkan hegemoni AS dan Israel di Timur Tengah.
Menguasai Timteng sama artinya menguasai dunia: Minyak jadi patokannya.
NYARIS SENADA
Peristiwa di atas nyaris sempurna dijadikan alat analisa untuk menggambarkan peristiwa yang dialami Dr. Febrie Adriansyah. Pria 58 tahun berdarah Lahat, Sumsel.
Dengan segala kekurangannya, Febrie yang dilantik sebagai Jampidsus pada 10 Januari 2022 sukses Mega Skandal Korupsi di Garuda, Timah yang catat rekor kerugian negara Rp 323 triliun dengan 23 tersangka dan terbukti sampai tingkat Mahkamah Agung.
Tak kalah sensasionalnya, perkara CPO dengan tersangka Korporasi (PT. Wilmar Group, PT. Musim Mas Group dan PT. Permata Hijau Group).
Febrie dapat membuktikan adanya kerugian negara dan perekonomian negara sebesar Rp 17, 7 triliun. Uang dalam bentuk tunai itu pun diterimakan kepada Presiden di Kejaksaan Agung.
Dalam peristiwa ini sejumlah Oliigarkhi dan atau terafiliasi dengan Oligarki sakit gigi dan marah: Drone yang beterbangan di atas kantor Jampidsus dan penguntitan oleh oknum Densus 88 Jateng adalah contoh.
Paham, paham, pinjam istilah Febrie saat jumpa pers di Lobi Gedung Bundar (Pidsus), Kejaksaan Agung Jumat pekan lalu.
Atas berbagai peristiwa, secara resmi TNI masuk ke Kejagung: TNI AD, TNI AL melalui pasukan elit Marinir dan berjaga dan mengawal kemana Febrie jalan.
Atas prestasi tersebut, Presiden lalu tunjuk Febrie sebagai Ketua Pelaksana Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dengan Ketua Tim Pengarah Menhan dengan Wakil Ketua I Jaksa Agung dan Wakil Ketua II Kapolri.
Febrie sebagai Ketua Pelaksana Satgas PKH didampingi Wakil Ketua I Kasun TNI dan Wakil Ketua II Kabagreskrim Polri dan Wakil Ketua III Ketua BPKP.
Torehan prestasi juga dicatat meski tidur tidak teratur dan bahkan terkadang hanya tidur satu dua jam, Febrie sukses berantas penguasaan kawasan hutan dari tangan Taipan dan Oligarki.
Tidak kurang 5 juta hektar lahan lebih diserahkan ke negara bersama uang triliunan hasil denda administratif.
Lagi-lagi,Presiden sediakan waktu untuk datang ke Kejagung menerima uang bersama “bendahara”-nya Purbaya Yudhi Sadewa.
KORBAN KONSPIRASI ?
Seperti Irak dan Iran: tudingan memiliki senjata nuklir (uranium diperkaya lebih 60 persen kandungan, yang bisa dipakai membuat senjata nuklir, Red) tidak terbukti !
Pada peristiwa pertama, lantaran disokong oleh NATO, AS tak perlu bantuan PBB untuk terapkan sanksi dan dewan keamanan PBB untuk keluarkan resolusi serang Irak.
Peristiwa penyerbuan Iran, AS gigit jari. Iran bukan hanya bisa bertahan tapi sekaligus bisa luluh lantakkan pangkalan militer AS di seluruh negara Teluk plus Arab Saudi dan Yordania.
AS dan Israel kewalahan. Dibantu jaringan media Barat dan cecunguknya yang berbayar, lakukan penyusupan ke jantung Iran dan lakukan penembakan kepada ribuan demonstran yang notabene dilakukan penyusup dan kolaboratornya: Dunia tercengang. Tercengang karena kecerdasan Iran akhirnya semua terbongkar.
Kembali ke kasus Febrie. Tiba-tiba, Kamis pekan lalu lakukan penggeledahan di Kafe d’Clan dan kediaman pribadi di Sentul dan ditemukan uang puluhan miliar dan emas batangan sebesar 74 kg.
Landasannya tiga perkara yang sampai kini tidak pernah dijelaskan kasus posisinya. Publik dibuat kaget.
Publik selama secara ‘sengaja’ dialihkan persoalan kepada perkara Asing alias Sudianto yang menambang bauksit secara ilegal dan patut diduga dibekingi oknum Jenderal sehingga bisa bertahan lama operasi ilegal tersebut.
Pada titik itu pula, yang lupa diliput wartawan sebab secara tersirat dirinya secara Gentleman siap menghadapi tudingan atas dirinya.
Juga, dibuat oleh pengusutan perkara MBG yang hanya satu hari, Febrie bisa menetapkan Dadan dan dua wakilnya, salah satu Brigjen Pol Sony Sonjaya sebagai tersangka. Tak lama kemudian disusul Brigjen Pol Lalu M. Iwan.
Kemudian seperti Halilintar di siang bolong yang panas menyengat pada Sabtu dinihari hari, Febrie ‘dipaksa’ mengundurkan diri lalu beberapa jam kemudian ditetapkan tersangka, pada Sabtu siang.
Peristiwa ini memuncak saat Polri serahkan penanganan ketiga perkara dugaan tindak pidana korupsi kepada Kejaksaan Agung dan diterima pula.
Secara bersamaan, dibangun di ruang platform Medsos: Sumpah serapah diarahkan ke Febrie seorang.
Bagi saya, yang meliput di Kejagung 30 -an tahun lebih peristiwa Febrie sangat menarik untuk menjadi bahan disertasi.
Dengan demikian akan terungkap latar belakang peristiwa dan dapat melihat secara jernih dan dengan akal sehat.
Mengapa disebut akal sehat maklum 12 tahun terakhir, akal sehat tergantikan oleh perut dan lain sebaginya: Dengan kesadaran pula semua dilakukan.
Pada peristiwa Febrie, pada keterangan hari Jumat dijelaskan bahwa dia tidak ada kaitan dengan bisnis kafe dan uang puluhan miliar dan emas batangan.
Dia juga akan menjelaskan tapi tidak pada kesempatan ini (maksudnya akan disampaikan melalui proses pro justisia, Red).
Seperti Iran, semua penjelasan Febrie dianggap Bulshit.
Artinya ada sebuah “skenario” untuk memutus kiprah Febrie ?
Adakah tekanan yang menjadi perpanjangan tangan Oligarki untuk mengamputasi sepak terjang Febrie ?
Saya tidak punya kompetensi untuk menjawab karena proses penanganan tiga perkara ‘tertutup ” ?
Satu hal pasti di negeri ini Anda dituntut kesempurnaan. Satu kesalahan, 9 Kebenaran dianggap Anda tidak cerdas dan Anda harus mundur atau disingkirkan.
Koruptor, Calon Koruptor dan oknum Oligarki tepuk tangan sukses adu domba dua lembaga penegak hukum ?
Mengutip pernyataan Jaksa Agung Alm. Burhanuddin Lopa: Anda bisa bersihkan lantai rumah. Jika orang yang menggunakan sapu lidi bersih dari berbagai kebusukan.
Pada akhirnya, waktu jugalah akan menjadi saksi atas peristiwa tersebut. Disebut Waktu karena dia tidak berpihak: Dia adalah milik Sang Penguasa Alam Semesta beserta IsiNya. (Wartawan Senior *)












