Tepis Narasi Sesat di Ruang Publik, Jampidsus: Pagi Ini, Saya Masih Terima Perintah Tuntaskan Perkara

Bagian Character Assassination

PORTALKRIMINAL.ID -JAKARTA: Tanpa tedeng-aling, Jampidsus Dr. Febrie Adriansyah tepis isu telah diminta mengundurkan diri dari jabatannya.

“Hingga saat ini, saya pagi tadi masih menerima perintah- perintah untuk segera menyelesaikan pemberkasan penanganan perkara yang memang menjadi waktunya singkat dan waktu penahanan terbatas, ” tegasnya, di Kejaksaan Agung, Jumat (10/7).

Statement tersebut disampaikan Febrie dalam jumpa pers di Lobi Gedung Bundar (Pidsus) didampingi Sekretaris Satgas PKH Andi Herman, Direktur Operasi Pidsus M. Syarifuddin, Direktur UHLBEE Andi Dharmawangsa dan Direktur HAM Berat N. Rahmat.

Jumpa pers yang dihadiri puluhan wartawan ini agak berbeda dengan biasanya. Pria berusia 58 tahun tampil dengan suara yang tegas, namun tetap tidak meninggalkan kekhasannya: Humble dan Terukur kata demi kata yang disampaikan.

NARASI SESAT

Dengan penjelasan pria berdarah Lahat, Sumsel yang tercatat merupakan satu-satunya Jaksa yang menjabat Direktur Penuntutan dan Direktur Penyidikan pada Satker Pidsus yang berujung pada kursi orang nomor satu di Pidsus bukan di Kejaksaan, maka isu atau narasi yang mengatakan Febri telah diminta Presiden untuk mengundurkan diri dari jabatannya adalah tidak benar.

“Narasi sesat yang sepertinya diduga sengaja dilempar ke ruang Publik, untuk membunuh karakter (Character Assassination) Pak Febrie, ” komentari Pegiat Anti Korupsi Iqbal Daud Hutapea secara terpisah.

Paska penggeledahan di Cae D’ Clane Cape, Cipete, Jakarta Selatan dan Sentul, Bogor, Jabar berkembang narasi Febrie telah diminta mundur dari jabatan Jampidsus.

Penggantinya adalah Kuntadi yang kini menjabat Kepala Badan Pemulihan Aset (BPA).

Entah, siapa yang memunculkan isu yang tidak bertanggung jawab tersebut yang kemudian banyak dikutip oleh media online. Wartawan peliput Gedung Bundar menyebutnya sebagai Narasi Sesat.
Disebut Narasi sesat lantaran tidak diuraikan kapan permintaan Presiden itu disampaikan dan lalu informasi itu disampaikan di Hambalang, Bogor (kediaman Presiden), di Kartanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan atau di Istana Negara ?

KHAWATIR TINGKAT DEWA

Dari berbagai informasi yang dihimpun patut diduga narasi itu sengaja dilempar dalam proses pembusukan Febrie yang banyak disebut sebagai calon Jaksa Agung yang paling mumpuni.

Mumpuni ini terkait sepak terjang Febrie, Alumni FH- Universitas Jambi baik sebagai Jampidsus sekaligus sebagai Ketua Pelaksana Satgas PKH.
Sejumlah Mega Skandal Korupsi berhasil dibongkar dan dibuktikan di pengadilan seperti perkara tata kelola timah tahun 2015 – 2022 yang merugikan negara Rp 323 triliun !
Selain 23 tersangka ditetapkan juga 5 Smelter dijadikan tersangka korporasi, yakni PT. Refined Bangka Tin Dkk.

Bahkan, Presiden menyempatkan diri hadir di Babel guna menerima penyerahan barang rampasan 5 Smelter di Babel.
Teranyar, perkara tata kelola minyak mentah dan produk kilang. The Gasoline Godfather dijadikan tersangka yang merugikan negara Rp 285 triliun.

Dalam kapasitas Ketua Pelaksana Satgas PKH sebanyak 5 juta kawasan hutan berhasil dikuasai oleh para taipan yang selama ini dijadikan bisnis Sawit dan Tambang ilegal dan triliunanbdari denda administratif.

“Dalam konteks tersebut, sulit ditepis kalau para taipan yang biasa disebut Oligarki sangat tidak menginginkan Pak Febri dipromosi sebagai Jaksa Agung, ” ujar sebuah sumber secara terpisah.

Alasannya sederhana, sebagai Ketua Pelaksana Satgas PKH saja dia mampu melibas para taipan yang nakal yang diduga keberadaannya yang langgeng selama ini karena dugaan dibekingi oknum-oknum oknum perwira tinggi baik yang aktif maupun pensiunan.

“Apalagi ketika Presiden mempercayakan jabatan Jaksa Agung kepada Pak Febri. Habis mereka, ” tukas Iqbal.
Oleh karena itu, menjadi penting Publik untuk selektif memilih berita dan atau informasi di platform Medsos agar tidak terjebak informasi sesat.

“Saatnya, kita berpikir jernih, ” pinta Iqbal sekaligus mengakhiri perbincangan.(ahi)